Terima kasih atas partisipasi kerabat-kerabat HUMAN FISIP UNHAS
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 4 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 5 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
Bermimpi Saja Tak Sanggup - Sebuah Etnografi
by: dewi widy
cp: gendenx_02@yahoo.co.id
Memasuki sebuah dusun dengan banyak anak kecil di dalamnya. Berlarian ke sana kemari. Mereka tertawa riang seolah tak ada beban dibenaknya. Senyum anak kecil, untaian permata yang entah kenapa terlihat indah. Tangisan sebagai petunjuk bahwa mereka menginginkan sesuatu. Tapi rupanya di sini, tak sesederhana itu. Dibalik tawa mereka mengandung banyak artian. â€Å“hompimpa alaiyum gambreng!!!â€�. Mereka memulai permainan dengan tawa riang tentunya. Permainan yang dimainkan kali ini adalah Pol-polan (petak umpet). Terlihat bahwa ada salah satu temannya yang bermain curang sehingga menjatuhkan anak yang lainnya. Rupanya anak yang dijatuhkan tadi bukannya menangis tapi justru tertawa yang akhirnya mengundang tawa teman yang lain. Ha..ha..ha.. ini sebuah permainan teman, bukan kecurangan ataupun kejahatan. Mungkin itu yang ada dibenak mereka, tentunya dengan bahasa mereka. Kulihat mereka dari kejauhan. Lantas aku mendekat. Tetapi rupanya mereka justru kabur berlarian ke sana ke mari. Aku bersembunyi mereka lantas keluar dan bermain lagi. Kemudian aku mendekat lagi dan mereka bersembunyi lagi. Akupun masuk saja kedalam rumah. Kuintip mereka dari balik jendela. Mereka seperti mencariku dan rupanya ada satu dua anak yang mengintip dari balik jendela. Akupun keluar lantas mereka berlarian sambil berteriak. Seperti melihat hantu saja pikirku. Akupun duduk terdiam di depan rumah. Kupanggil salah seorang anak yang memang dari tadi aku perhatikan, dia bak ketua diantara anak yang lainnya. â€Å“hei, siapa namamu?â€�. Dia tampak bingung dan berhati-hati mendekatiku. Tentu saja aku asing untuknya. Tak pernah dia melihatku sebelumnya. â€Å“namaku Kholik..â€�. dia ini anak yang terlihat berbeda bila diantara temannya. Lihat saja rambutnya, rambutnya di jegrakkan dan gaya berjalannya bak penguasa, petantang petenteng. â€Å“kelas berapa kamu?â€� rupanya dia kelas 3 SD. â€Å“dapat rengking ga sekolahnya?â€� dia mengeluarkan jari telunjuknya. Yup! Dia mendapat peringkat satu. Lantas seorang temannya, Alimin mendekat padaku dan bercerita sambil terbata-bata. â€Å“mbak, dia itu sebenarnya kelas 4 SD tapi pernah tidak naik kelas. Jadi ya dapat rengking satu. Ketua kelas lagiâ€�. Cepat-cepat Kholik membungkam mulut Alimin agar tidak terus bercerita. Teman-temannya lantas berteriak bilang â€Å“iya mbak!!!!!â€�. Kholik malu sepertinya karena pernah tidak naik kelas. Mukanyapun memerah. Lantas aku minta mereka duduk di dekatku. Aku menasehati kepada mereka bak seorang guru bahwa tidak naik kelas bukanlah aib tetapi keberhasilan yang tertunda. Aku memberi contoh beberapa orang temanku yang tidak lulus ataupun tidak naik kelas akhirnya berhasil menjadi orang sukses. Sepertinya mereka semakin antusias mendengar cerita-ceritaku. â€Å“nanti kalau kalian sudah besar ingin jadi apa?â€� Tiba-tiba suasana menjadi hening. Tak ada jawaban dari mereka. Lama sekali. Kuulangi lagi pertanyaanku, â€Å“cita-cita kalian apa?â€� Mereka masih terdiam. â€Å“tidak ada yang ingin jadi dokter?guru?perawat?pilot?presiden?â€� lagi-lagi mereka diam. Kemudian tak lama mereka menjawab satu persatu, ingin menjadi petani, ingin menjadi peternak, ingin cari rumput, ingin jadi guru, ingin jadi polisi hutan, ingin jadi bidan... lantas suasana menjadi ramai. Sesederhana itukah mimpi mereka? Mungkin karena kondisi alam dan pola kehidupan mereka yang tiap hari ke ladang, bertanam, mencari rumput, berdagang, dan beternak yang mempengaruhi cara pandang mereka. Jikalau bercita-cita menjadi guru, bidan ataupun polisi hutan karena itu yang mereka lihat sehari-hari. Aku bertanya lagi kepada mereka. â€Å“kalau sudah lulus SD kalian mau ngapain?â€�. Suasana menjadi hening lagi. Tak ada jawaban. Mereka memasang muka lesu seperti tak ada harapan. â€Å“kok diam?â€�. Anak-anak mencoba memberanikan diri untuk menjawab, â€Å“ga ada uangnya mbak...â€�. aku mengerutkan dahi. â€Å“bagaimana bisa tidak ada uang? Yang namanya orang tua pati akan mengusahakan untuk anaknyaâ€�. Mereka sepertinya sedikit marah mendengar ucapanku itu. Ya, aku berpikir bahwa ini di tempatku. Mungkin ini kesalahanku. â€Å“memang ga ada uang mbak! Buat makan saja susah!â€� Sekarang justru aku yang terdiam. Kuperhatikan mereka satu persatu. Bajunya robek, kotor, bukan karena mereka anak kecil lantas belum ganti baju. Kucoba membandingkan dengan keadaan di tempat tinggalku. Baju sobek tidak pernah digunakan lagi, atau paling tidak dijahit. Hidung mereka ingusan tebal berwarna hijau kental. Mungkin benar jika uang merupakan alasan kuat kenapa anak-anak berhenti sekolah. Tetapi ada pula alasan lain ketika kulihat orang tua mereka mampu untuk menyekolahkan mereka. Jalan di area pegunungan yang berkelok-kelok, naik turun dan berjalan kaki. Ratusan meter mereka lalui setiap hari untuk mendapatkan pendidikan. Mungkin jika aku di sini, aku akan malas ke sekolah jika mengingat jarak yang akan aku tempuh. Tapi tidak dengan mereka, mereka begitu bersemangat untuk bersekolah meskipun terkadang mereka sedikit malas (beralasan sakit) untuk sekolah. Tak hanya itu. Ketika di rumah mereka diminta menjaga adik-adiknya ketika orang tua ke ladang. Mereka juga harus membantu merumput dan memasak di dapur. Bukan, ini bukan kekerasan. Tetapi tuntutan untuk mereka bisa bertahan hdup. Miris sekali memang. Tak heran jika selepas SD mereka di rumah sambil menunggu usia dewasa untuk menikah. Dalam diamku kemudian seorang anak bernama Wawan mengagetkanku. Memintaku untuk mengenalkan diri. Aku Dewi dan seorang mahasiswa. Lantas mereka bertanya tentang apa itu mahasiswa, sekolahnya bagaimana, urutannya seperti apa, setelah mahasiswa menjadi apa, kerjanya apa, dan lain sebagainya. Tak hanya itu. Mereka terus menanyaiku dari mana aku berasal dan sebagainya. Mereka sangat ingin tahu. Kujawab Jogja. â€Å“Dimana itu jogja? Jauh tidak dari sini?...dstâ€�. melihat hari sudah semakin sore, aku bilang nanti akan kujelaskan lagi lain waktu di mana Jogja, Sumatera, dan lain sebagainya. Lantas aku bertanya lagi. â€Å“bagaimana, nanti kalau sudah besar mau jadi apa?â€�. Dengan optimis mereka menjawab â€Å“guru, ustad, tentara, polisi, kayak mbaknya...â€�. kata terakhir yang membuatku sedikit tersenyum. Paling tidak mereka ada keinginan untuk melanjutkan sekolah dan tidak takut untuk bermimpi. Aku rasa mimpi itu nyawa dari sebuah jiwa. Jika tidak bermimpi kita tidak berusaha untuk mengubah kehidupan kita. Aku memang tidak bisa berbuat banyak di sini. Aku tidak membangun bangunan fisik, aku hanya berbekal sedikit sekali keahlian jika dibandingkan mereka. Justru di sini aku yang belajar banyak dari mereka. Belajar tentang kehidupan yang sebenarnya. Dari mereka aku belajar bagaimana memanajemen kehidupan, menghargai alam, bersyukur kepada Tuhan dan salah satunya mengenal anak-anak yang selalu menjadi inspirasiku, serta masih banyak pelajaran yang aku dapatkan. Satu lagi, sebuah keluarga yang selalu memberi kehangatan. Keluarga baru. Keluarga besar. Di sini aku hanya membawa title sebagai seorang mahasiswa. Bukan aku membanggkan diriku sendiri. Tetapi paling tidak, kedatangan orang luar membuat mereka mau mengenal tentang di luar sana (dibalik pegunungan ini tentunya). Kedatangan â€Å“mahasiswaâ€� paling tidak membuat para orang tua berpikir sejenak untuk masa depan anaknya. Meski mereka tahu untuk menjadi â€Å“mahasiswaâ€� itu tidak murah, tetapi aku dan teman-temanku di sini menjelaskan bagaimana itu mahasiswa. Sehingga memunculkan niat anak-anak untuk terus sekolah setinggi-tingginya. Semoga. *kuhaturkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada keluarga besar nun jauh di sana...aku selalu merindukan kalian... -dewi-
Kecamatan Arungkeke merupakan salah satu dari 11 Kecamatan di Kabupaten Jeneponto yang berbatasan dengan Kecamatan Batang di sebelah utara, Laut Flores di sebelah timur, Kecamatan Binamu di sebelah barat dan Laut Flores di sebelah selatan dengan ibu kota kecamatan di desa Arungkeke. Dari 7 desa dikecamatan Arungkeke, sebanyak 6 desa diantaranya merupakan daerah pantai dan hanya 1 desa lainnya merupakan daerah bukan pantai. Menurut jaraknya, maka letak masing-masing desa ke ibukota Kecamatan dan ibukota Kabupaten sangat bervariasi. Jarak desa ke ibukota Kecamatan maupun ke ibukota Kabupaten berkisar 4-14 km. Untuk jarak terjauh adalah desa Arungkeke Pallantikang yaitu sekitar 17 km dari ibukota Kabupaten (Bontosunggu), sedangkan untuk jarak terdekat adalah Desa Kalumpang Loe. Kecamatan Arungkeke terdiri dari 7 desa dengan luas wilayah 29,91 km2. Boronglamu memiliki wilayah terluas yaitu 7,23 km2, sedangkan yang paling kecil luas wilayahnya adalah Desa Arungkeke Pallantikang yaitu 2,73 km2. Hasil pencatatan hari hujan dan curah hujan di Kecamatan Arungkeke menunjukkan jumlah ratarata hari hujan selama setahun sebanyak 19 hari sedangkan curah hujan sebanyak 2.980 mm. www.google.com/kabjeneponto/ pde/kabupaten jeneponto.
Dilihat dari sumber mata pencaharian menunjukkan bahwa dari jumlah penduduk yang bekerja, sebanyak 3.278 orang adalah petani pangan, sedangkan peternak sebanyak 197 orang. Tambak dan Nelayan sebanyak 942 orang. Penduduk yang bekerja di luar sektor pertanian antara lain Perdagangan sebanyak 529 orang, Industri 98 orang, Angkutan 609 orang, dan Jasa hanya 268 orang. Adapun penduduk yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil dan ABRI sebanyak 265 orang. www.google.comkabjeneponto/ pde/kabupaten jeneponto.
Sebagian penduduk di desa Arungkeke bekerja atau menggantungkan kehidupannya sebagai penambak garam. Garam merupakan salah satu kebutuhan yang merupakan pelengkap dari kebutuhan pangan dan merupakan sumber elektrolit bagi tubuh manusia. Walaupun Indonesia termasuk negara kepulauan, usaha meningkatkan produksi garam belum diminati, termasuk dalam usaha meningkatkan kualitas garam tersebut. Di lain pihak untuk kebutuhan garam dengan kualitas baik (kandungan kalsium dan magnesium kurang) banyak diimpor dari luar negeri, terutama dalam hal ini garam beryodium serta garam industri. Pada masyarakat Arungkeke garam merupakan salah satu kemoditi yang cukup di perhitungkan. www.google.com kabjeneponto/ pde/kabupaten jeneponto.
B.Fokus Masalah
Penelitian ini fokus pada bagaimana proses produksi dan distribusi garam di desa Arungkeke Kecamatan Arungkeke Kabupaten Jeneponto?
C.Tujuan Dan Kegunaan penelitian
1.Tujuan
Berdasarkan fokus masalah tersebut di atas diharapkan dapat mengetahui proses produksi dan distribusi garam di desa Arungkeke Kecamatan Arungkeke Kabupaten Jeneponto.
2.Kegunaan
Dapat menjadi referensi mengenai produksi dan distribusi garam bagi para mahasiwa jurusan antropologi dan jurusan yang lain.
A.Lokasi Penggaraman
Dalam proses pembuatan garam yang sederhana mengikuti penguapan air laut sehingga mineral-mineral yang ada di dalamnya mengendap. Hanya saja mineral-mineral yang kurang diinginkan sedapat mungkin hanya sedikit yang dikandung oleh garam yang diproduksi. www.google.com/Kabjeneponto/ Harmonisasi-Sinergi Pemerintah Daerah
Lahan pembuatan garam dibuat berpetak-petak secara bertingkat, sehingga dengan gaya gravitasi air dapat mengalir ke hilir kapan saja dikehendaki.
Menurut KN (39 tahun):
Pada penentuan lahan garam di desa Arungkeke, lahan di bentuk berpetak-petak. Awalnya lahan terbentuk dengan alami atau secara alami. (wawancara, 21 Juni 2010)
Pada proses masukknya garam di desa Arungkeke Kecamatan Arungkeke ini sekitar 60 tahun yang lalu. Sebagaimana yang dikatakan oleh KN (39 tahun) bahwa :
Teknik pertambakan garam masuk ke desa Arungkeke sejak zaman penjajahan jepang sekitar 60 tahun yang lalu. Pada saat itu, mereka melihat terjadi kristalisasi (proses mengerasnya air garam), secara alami garam terkumpul di pinggiran danau. Mereka memanfaatkannya dengan membuatnya menjadi petak-petakan supaya garam yang dihasilkannya lebih banyak. (wawancara, 21 2010)
Dalam berbagai unit produksi masyarakat terkhususkan dalam proses pembuatan garam, penggarapannya harus sesuai dengan luas yang mereka pilih.
Hal demikian berlaku pada masyarakat desa Arungkeke Kecamatan Arungkeke. Menurut KN (39 tahun) :
Penentuan lahan di tambak pada masyarakat desa Arungkeke di pilih oleh masyarakat setempat serta kepemilikan lahan tersebut pada masyarakat disana yakni hanya orang-orang tertentu seperti orang yang bergelar Karaeng yang memiliki lahan karena lahan tarsebut berasal dari raja pertama arungkeke lalu di wariskan kepada anak-anaknya. (wawancara, 21 Juni 2010)
Dalam meningkatan mutu garam, yaitu mengendapkan Kalsium dan Magnesium dengan menggunakan Natrium Karbonat atau Natrium Oksalat yang dikombinasikan dengan cara pengendapan bertingkat. Kalsium dan magnesium sebagai unsur yang cukup banyak dikandung dalam air laut. www.google.com/Kabjeneponto/ Harmonisasi-Sinergi Pemerintah Daerah
Tanah untuk penggaraman yang dipilih harus memenuhi kriteria yang berkaitan dengan ketinggian dari permukaan laut, topografi tanah, sifat fisis tanah, kehidupan (hewan/tumbuhan) dan gangguan bencana alam. www.google.com/Kabjeneponto/ Harmonisasi-Sinergi Pemerintah Daerah
Denah Lahan di Tambak Garam, Desa Arungkeke Kecamatan Arungkeke Jeneponto
Ket : A.Paje’ne Bambangan
G. Garam yang siap di panen
Denah diatas merupakan lahan dalam tambak penggaraman. Denah tersebut di dapatkan oleh DT (umur) pada saat mengikuti pelatihan di Palangga’. Percontohan yang di dapatkan tersebut berasal dari Madura yang di sosialisasikan oleh orang Jepang di Sulawesi Selatan.
Letak desa Arungkeke ini berdekatan dengan laut sehingga komoditi garam di sana cukup produktif dalam memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Sebagaimana penuturan KN (39 tahun):
Pada masyarakat di desa Arungkeke terdapat garam yang produktif karena wilayahnya dekat dengan laut.
(wawancara, 22 Juni 2010)
Suatu wilayah yang jaraknya berdekatan dengan laut akan mempermudah suplai air laut dan mempermudah pembuangan. Di lihat dari topografinya maka tanahnya landai atau mengalami kemiringan kecil sehingga dapat mengatur tata aliran air serta mudah meminimalisir biaya kontruksi serta sifat fisis tanahnya tidak mudah retak. www.google.com/Kabjeneponto/ Harmonisasi-Sinergi Pemerintah Daerah
Letak desa Arungkeke dekat dengat laut sehingga garam menjadi sumber yang produktif pada masyarakat disana, dimana jarak antara laut dengan tambak atau tempat pembuatan garam berkisar 50 m. Penuturan KN (39 tahun) bahwa jarak antara laut dan lokasi tambak jaraknya 50 m.
Namun dalam penentuan lahan atau tambak dalam pembuatan garam di desa Arungkeke ini sangat bergantung terhadap kualitas air yang di berikan. Menurut KN (39 tahun) :
Dalam penentuan lahan yang produktif di desa Arungkeke sangat bergantung dengan kualitas air yang di berikan
(wawancara, 22 Juni 2010)
Dilihat dari sumber mata pencaharian pada masyarakat disana menunjukkan bahwa dari jumlah penduduk yang bekerja sebagian dari mereka menggantungkan kehidupannya dari hasil produksi garam bahkan menjadi pekerjaan pokok bagi mereka.
Menurut KN (39 tahun):
Produksi garam dianggap sebagai pekerjaan pokok bagi sebagian masyarakat, sekitar 60% menggantungkan kehidupannya pada garam karena menurut mereka penghasilannya lebih menguntungkan.
(wawancara, 22 Juni 2010)
Produksi garam juga bergantung dari penggunaan alat serta berbagai bahan yang digunakan. Berdasarkan perkataan DT (umur) :
Terdapat alat-alat yang di gunakan oleh petani garam yaitu pemukul atau mereka sering menyebutkan dengan sebutan padengka’ dan penarik yang sering mereka sebut sebagai pakkai’. (wawancara, 22 Juni 2010)
Adapun alat-alat yang dapat digunakan dalam pempermudah petani dalam penambakannya, yakni sebagai berikut :
Alat-Alat meliputi sebagai berkut :
• Meteran
• Pompa
• Pipa paralon, stop kran dan selang karet
• Cangkul, linggis, skop, penggaruk dsb. www.google.com/Kabjeneponto/ Harmonisasi-Sinergi Pemerintah Daerah
Dalam proses pemberian air laut pada penyaringan di tambak sangat berpengaruh terhadap kualitas garamnya, keadaan pasang surutnya air laut pun dapat mempengaruhinya. Sebagaimana perkataan KN (39 tahun) bahwa hasil panen sangat bergantung dengan pasangnya air laut. Sehingga para petani selalu mengisi penyaringannya dengan air laut. Lanjut perkataan beliau bahwa para petani selalu mengisi penyaringannya dengan air.
Pada proses produksi garam di desa Arungkeke ini, sebagian para petani menggunakan kincir angin yang memudahkan mereka dalam pengisian penyaringan tersebut. Menurut KN (39 tahun):
Penggunaan kincir angin pada lahan di tambak produksi garam dapat digunakan untuk mengisi tempat penyaringan yang dimanfaatkan sesuai dengan cuaca (kondisi angin). (wawancara, 21 Juni 2010)
Penetapan jarak kedalaman sebuah pematang di tiap tambak dalam lahan yakni 40 m dan 50 m. Lanjut KN (39 tahun) bahwa kedalam pematang luar berjumlah 40 cm sedangkan pada pematang dalam 1,5 m. Adapun luas lahan pada tambak yakni berkisar 10 hektar. Menurut penuturan KN (39 tahun):
Luas area lahan pada tambak yakni 10 hektar untuk tambak garam hanya di pakai untuk bulan 8 (musim kemarau), pada musim hujan di alih fungsikan sebagai lahan yang di pupuk untuk ikan dan garam. (wawancara 21 Juni 2010)
Faktor pewarisan lahan di tambak garam di desa Arungkeke yang di tentukan oleh garis keturunan berpengaruh terhadap proses penambakannya.
Menurut BL (28 tahun):
Semua tambak garam di desa ini berasal dari raja pertama mereka yaitu raja Arungkeke lalu di wariskannya kepada para anak dan cucunya untuk di manfaatkan sebagai sumber kehidupan hingga sekarang.
Semasa dulu masyarakat yang berasal dari keluarga Karaeng ikut serta dalam proses penambakan garam di lahan.
Namun seiring perkembangan zaman penambakan garam tidaklah lagi di kerjakan oleh orang berasal dari keluarga Karaeng, mereka lebih banyak mengehar pendidikan.
Berdasarkan perkataan DL (28 tahun) bahwa :
Dalam proses penambakan garam, semasa dulu keluarga yang berasal dari karaeng juga ikut dalam mengerjakan prosesnya namun seiring berubahnya zaman maka kebanyakan dari mereka lebih memilih mengejar cita-cita dengan menempuh pendidikan tinggi.
B. Permodalan
Dalam mengerjakan sesuatu hal yang paling pertama di perlukan sebelum mengerjakannya adalah pemberian modal. Pada proses prosuksipun sangat di perlukan. Di masyarakat desa Arungkeke, pemberian modal pada produksi garam berasal dari modal mereka sendiri. Menurut DT (umur) :
Modal untuk membangun sebuah tambak garam pada lahan yaitu berasal dari modal sendiri. (wawancara, 22 Juni 2010)
C. Tenaga Kerja
Dalam proses produksi pada umumnya, pelaksanaan penambakkan garam tersebut membutuhkan tenaga untuk mengerjakannya. Tekadang penentuan tenaga kerja cukup berpengaruh terhadap hasil produksi. Hal tersebut juga belaku sama dengan produksi garam di desa Arungkeke. Penentuan tenaga kerja dalam memproduksikannya berkisar 3 sampai 4 pekerja. Menurut KN (39 tahun) :
Penetapan penggunaan tenaga kerja dalam proses produksi dalam setiap petaknya berjumlah sebanyak 3-4 pekerja. Tanah dan tambak milik pribadi, tenaga pekerja di pilih dari masyarakat setempat karena telah memiliki profesi untuk kerja penambakan garam. (wawancara tanggal tahun)
Selain penentuan tenaga dalam proses pengerjaannya, tanah dan tambaknya dimiliki oleh orang-orang yang hanya berasal dari Karaeng. Menurut KN (39 tahun) bahwa hanya orang yang berasal dari karaenglah yang memiliki tanah atau tambak. Dalam penentuan tenaga kerja di pilih berdasarkan persetujuan masyarakat setempat sesuai dengan profesinya sebagai penambak garam. Berdasarkan perkataan DT (umur) :
Adapun pembagian kerja dalam proses pengerjaannya yakni para laki-laki memasukkan air pada tambak lalu tanahnya di endapkan dengan menggunakan Padengka’ hingga pada proses kristalisasi atau terbentuknya garam . sedangkan para wanita bertugas mengambil garam tersebut lalu memesukkannya ke dalam karung.
Pada proses pembagian hasil dalam penambakan garam ini di bagi menjadi dua berkisar 50:50 namun ada juga yang 30:70.
Menurut BR :
Pembagian hasil dalam penambakan garam di desa Arungkeke berkisar 50:50 namun ada juga yang tidak merata yakni 30 : 70. Pada pembagian para pekerja dan pemilik lahan membagianya bukan dalam uang namun pembagiannya dalam bentuk garam serta keuntungan dalam perbulannya tergantung dari permintaan pasar
Pembagian hasil dalam penambakan di desa ini tidak berbentuk uang melainkan berbentuk garam serta keuntungan perbulannya tergantung dari permintaan pasar.
D. Proses
Tahapan pertama dalam proses pembuatan garam atau petambakan garam yaitu para petani harus membuat petang terlebih dahulu. Menurut DT (umur) :
Proses pembuatan garam pertama-tama membuat pepang. Apabila garamnya sudah mengental kemudian menggunakan kayu atau mereka sebut sebagai Padengkang yang panjangnya kurang lebih 25 cm kemudian di injak dengan menggunakan kayutersebut sebagai pengangan.(wawancara, 22 Juni 2010)
Apabila garamnya sudah mengental, para petani menggunakan kayu atau mereka sebut sebagai Padengkang yang panjangnya kurang lebih sekitar 25 cm kemudian di injaknya agar tanahnya padat. Lanjut beliau: proses terjadinya garam kurang lebih setengah bulan.
Adapun proses dalam pembuatan garam atau penambakan garam, sebagai berikut :
a. Proses Pembuatan Garam
a. Pengeringan Lahan
• Pengeringan lahan pemenihan dilaksanakan pada awal bulan April.
• Pengeringan lahan kristalisasi.
b. Pengolahan Air Peminian/Waduk
• Pemasukan air laut ke Peminian.
• Pemasukan air laut ke lahan kristalisasi.
• Pengaturan air di Peminian.
• Pengeluaran Brine ke meja kristal dan setelah habis dikeringkan selamaseminggu.
• Pengeluaran Brine ke meja kristal dan setelah habis dikeringkan, untuk pengeluaran Brine selanjutnya dari peminian tertua melalui Brine Tank.
• Pengembalian air tua ke waduk. Apabila air peminihan cukup untuk memenuhi meja kristal, selebihnya dipompa kembali ke waduk. www.google.com/Kabjeneponto/ Harmonisasi-Sinergi Pemerintah Daerah
c. Pengolahan Air dan Tanah
• Pekerjaan Kesap Guluk (K/G) dan Pengeringan :
` - Pertama K/G dilakukan setelah air meja 4–6°Be.
- Kedua K/G dilakukan setelah air meja 18–22°Be dan meja di atasnya dilakukan K/G dengan perlakuan sama.
• Lepas air tua dilakukan pada siang hari dengan konsentrasi air garam 24–25°Be dan ketebalan air 3–5 cm. www.google.com/Kabjeneponto/ Harmonisasi-Sinergi Pemerintah Daerah
d. Proses Kristalisasi
• Pemeliharaan meja begaram
• Aflak (perataan permukaan dasar garam) www.google.com/Kabjeneponto/ Harmonisasi-Sinergi Pemerintah Daerah
e. Proses Pungutan
• Umur kristal garam 10 hari secara rutin
• Pengaisan garam dilakukan hati-hati dengan ketebalan air meja cukup atau 3–5 cm.
• Angkutan garam dari meja ke timbunan membentuk profil (ditiriskan), kemudian diangkut ke gudang atau siap untuk proses pencucian. www.google.com/Kabjeneponto/ Harmonisasi-Sinergi Pemerintah Daerah
f. Proses Pencucian
• Pencucian bertujuan untuk meningkatkan kandungan NaCl dan mengurangi unsur Mg, Ca, SO4 dan kotoran lainnya.
• Air pencuci garam semakin bersih dari kotoran akan menghasilkan garam cucian lebih baik atau bersih. www.google.com/Kabjeneponto/ Harmonisasi-Sinergi Pemerintah Daerah
Pada proses pertambakan pada garam terdapat hambatan-hambatan atau berbagai berpengaruh dalam hasil produksinya, seperti :
• Panjang kemarau berpengaruh langsung kepada “kesempatan” yang diberikan kepada kita untuk membuat garam dengan pertolongan sinar matahari.
• Curah hujan (intensitas) dan pola hujan distribusinya dalam setahun rata-rata merupakan indikator yang berkaitan erat dengan panjang kemarau yang kesemuanya mempengaruhi daya penguapan air laut.
• Kecepatan angin, kelembaban udara dan suhu udara sangat mempengaruhi kecepatan penguapan air, dimana makin besar penguapan maka makin besar jumlah kristal garam yang mengendap. www.google.com/Kabjeneponto/ Harmonisasi-Sinergi Pemerintah Daerah
Pada tahapan perawatan para pekerja tidak mengeluarkan biaya dalam pengejaannya. Sebagaimana perkataan KN (28 tahun) bahwa hampir tidak ada pengeluaran yang dikeluarkan dalam perawatan. Di saat panen masyarakat mengikatnya pada bambu, menurutnya lagi bahwa disaat panen, garam dikait dengan menggunakan bambu yang di sesuaikan dengan lahan
Namun tak sedikit dari mereka, di saat panen tiba mereka menampungnya, berdasarkan penuturan KN (28 tahun) :
Setelah panen garam di tampung di area penjualannya, datang pedagang untuk mengambilnya, penjualannya kepada pedagang tergantung dari hasil produksinya ataupun permintaan pasar.
Ketika hasil panen telah di kumpulkan maka hal tersebut sudah siap di pasarkan dan memberikan upah kepada kelompok atau para penanam yang telah di sepakati sebelumnya. Lanjut beliau adapun kalau mau ditumpuk tergantung dari individu dan biasanya mereka menjual garam yang di tumpuk pada saat harga garam naik (mahal). Dalam proses kerja panen berkelompok pada masyarakat tertentu membagikan hasil panen yang di dapatkan merupakan hal yang sering di lakukan untuk memenuhi kebutuhan makanan pokok ketimbang di jual.
Menurut BR :
Pembagian hasil dalam penambakan garam di desa Arungkeke berkisar 50:50 namun ada juga yang tidak merata yakni 30 : 70. Pada pembagian para pekerja dan pemilik lahan membagianya bukan dalam uang namun pembagiannya dalam bentuk garam serta keuntungan dalam perbulannya tergantung dari permintaan pasar
Pembagian hasil dalam penambakan di desa ini tidak berbentuk uang melainkan berbentuk garam serta lanjut beliau bahwa keuntungan perbulannya tergantung dari permintaan pasar serta terkadang mereka masih menggunakan system barter, yaitu antara garam dengan kayu.
Penghasilan dari produksi di pasarkan daritahun ketahun. Berdasarkan BL (39 tahun) bahwa :
• Tahun 2005 jumlah yang di pasarkan mencapai 15000-30.000
• Tahun 2006 jumlah yang di pasarkan mencapai 100.000-110.000
• Tahun 2007 jumlah yang di pasarkan mencapai 7.000
• Tahun 2008 jumlah yang di pasarkan mencapai 3.000
• Tahun 2010 jumlah yang di pasarkan mencapai 10.000-15.000
Fenomena geografi dan potensi kelautan, demografi dan masyarakat dengan sejarah yang sarat dengan budaya maritim merupakan salah satu kajian Antropologi dan menjadikan kelautan sebagai pola ilmiah. Sebab fenomena fisik alam kelautan yang merupakan objek dan fakta empirik general bagi pandangan saintis, sesungguhnya dilapisi keatas dengan fenomena budaya yang bervariasi dari suatu tempat dan masyarakat ke tempat-tempat dan masyarakat-masyarakat lannya di duna. Fenomena demografi dan budaya maritim yang melalui proses dinamika karena pengaruh kekuatan- kekuatan internal/konteks lokal dan eksternal merupakan kajian sosial budaya.
Mengikuti konsep Mukhlis Paeni, tatanan dan perkembangan budaya kemaritiman yang melibatkan negara dan politik serta perdagangan dunia yang disebutnya sebagai tradisi maritim besar (maritime great tradition) di bedakan dari tradisi maritim kecil (maritime little tradition) yang diacukan pada aktivitas penangkapan laut. Di konsepsikan demikian karena aktivitas tersebut dilakukan secara kecil-kecilan saja dan mereka yang terlibat didalamnya adalah rakyat miskin/golongan marginal penghuni daerah-daerah pesisir yang dikuasai oleh kelas-kelas pedagang/saudagar bermukim di kota-kota pantai. Mandegnya perkembangan tradisi maritim besar kreasi lokal di Nusantara ini setelah kemerdekaan Indonesia di ungkapkan oleh Mukhlis sebagai “harta yang kehilangan ahli waris”
Masyarakat maritim, terutama nelayan dan pelayar, merupakan kategori sosial yang sekali menjadi nelayan atau pelayar, akan sulit sekali meninggalkan lingkungan laut dan pekerjaannya untuk bergeser ke sektor-sektor ekonomi lainnya di darat. Sebab adaptasi dan menyatunya dengan lingkungannya sekaligus melibatkan adaptasi fisiologi, psikologi, sosial dan budayanya. Adaptasi fisiologi berupa penyesesuaian persaan bau, penglihatan, pendengaran, ukuran rongga pernafasan, mungkin juga tekanan darah. Adaptasi psikologi berupa penyesesuaian perasaan-perasaan dengan karakter laut (badai, ombak, keteduhan, suhu, iklim, pemandangan bebas), dan bahkan mungkin dengan prilaku biota laut. Seiring dengan hal-hal tersebut dalam masyarakat nelayan akhirnya
Bottom of Form
Zoom Out
Zoom In
Fullscreen
Exit Fullscreen
Select View Mode
View Mode
BookSlideshowScroll
timbul kepercayaan-kepercayaan yang cenderung mistis seperti sebagaian besar masyarakat nelayan dan pelayar lainnya di Nusantara. Misalnya di Sulawei Selatan, untuk hal yang demikian biasanya mereka mendasarkan kepada penegtahuannya dengan indraPakkita (penglihatan),Parengkkalinga (pendengaran),Parem ma u (penciuman), Panedding (firasat), dan Tenttuang (keyakinan) (Abu Hamid, 2003). Adaptasi sosial budaya dengan lingkungan laut memproduksi perangkat sikap-sikap dan dan pandangan menjadikan laut sebagai lingkungan habitat dan biota dari berbagai spesis disitu sebagai subjek. Subjek dengan mana mereka berinteraksi, jadi bukan semata sebagai objek yang di pelajari kemudian di eksploitasi. Pola-pola adaptasi yang kompleks dan ekstrim tersebtu akan menyulitkan orang-orang/manusia perahu keluar dari dunia baharinya. Memasuki lingkungan laut dan memanfaatkan sumberdaya di kandungnya serta jasa-jasa laut di sajikan memaksa manusia pengguna, harus bahkan mutlak bekerjasama dan melembagakan kehidupan kolektif. Kondisi laut berbahaya, sifat/pola perilaku spesis- spesis biota tangkapan, berat dan rumitnya pekerjaan, kebutuhan akan modal dan biaya- biaya yang mendesak yang tidak dapat ditanggung sendiri menjadi faktor utama diperlukannya secara mutlak kelembagaan dan kehidupan kolektif dalam masyarakat Maritim.
Dengan latar belakang ke maritiman yang luas dan untuk memenuhi kebutuhan- kebutuhan mutlak ekonomi, maka dari itu nelayan dan pelayaran banyak melakukan penyesuasian dan pengembangan pada pola teknologi produksi. Pada makalah ini kita akan membahas tentang teknologi Gae (Makassar/Bugis) atau purce siene, perangkat atau teknologi alat berupa pukat cincin yang banyak ditemukan pada nelayan di pesisir dan pulau-pulau di Nusantara dan Sulawesi Selatan pada khususnya. Untuk mengambil suatu objek maka pada makalah ini mengambil objek studi di Pulau Kodingareng, dengan alasan bahwa nelayan Kodingareng sebagian besar masih mengunakan teknologi alat tangkap Gae untuk menmanfaatkan sumber daya laut dalam hal ini biota ikan yang kaya di kawasan karang spemonde, Sulawesi Selatan. Cakupan mengenai perkembangan berbagai bentuk aktivitas/usaha perikanan yang menjadi implikasi dari proses perkembangan teknologi akan menjadi pusat perhatian dalam tulisan ini.
Masalah Penelitian
Dalam tulisan ini akan mengkaji tentang ruang lingkup Pagae atau nelayan mengoperasikan teknologi alat tangkap pukat cincin (purce siene) yang banyak di gunakan oleh nelayan di Nusantara, tetapi kali ini kami akan lebih spesifik tentang Pagae yang ada di Pulau Kodingareng. Tentang subtansi dari tulisan di bawah tentang pokok- pokok yang akan di bahas dan menjadi frame dari pada tulisan ini :
Pengetahuan yang menjadi landasan utama bagi nelayang dalam mengekplitasi lingkungan laut.
Teknologi alat tangkap dalam hal ini pukat cincin/purce siene atau dalam bahasaMakasar di sebut dengan Gae.
Organisasi dalam tubuh kelompok nelayan Pagae serta bagaimana mekanismefungsi yang diatur dalam sebuah struktur.
Jaringan pemasaran hasil tangkapan yang diperoleh nelayan pagae yang menjadi sebuah mekanisme yang diatur oleh semua nelayan yang ada di Kodingareng.
Metode Penelitian
1. Sifat Penelitian
Penelitian ini berorientasi pada karakteristik penelitian kualitatif deskriptif. Sehingga pengumpulan data akan di lakukan dengan mengandalkan validitas dan kualitas data yang ada di lapangan.
2. Waktu dan Lokasi Penelitian
Lokasi :
Waktu :
3. Pemilihan Informan
Penentuan informan dilakukan secara purposive dengan mengambil beberapa orang sebagai sumber informasi yang tentunya berkaitan dengan fokus penelitian serta memiliki pengetahuan yang mendukung upaya pengumpulan data.
4. Teknik Pengumpulan Data
a. studi pustaka (Library Research), yaitu pengumpulan data melalui literature serta referensi lainnya yang menyangkut pengetahuan dan informasi yang telah ada untuk dijadikan kerangka konseptual yang akan mengarahkan pada focus penelitian.
b. Studi Lapang (Field Research), yaitu dengan turun langsung ke lapangan melakukan penelitian guna mendapatkan data yang lebih valid mengenai peneletian. Untuk hal tersebut di perlukan teknik pengumpulan data sebagai berikut :
- Observasi partisipatif, yaitu salah satu teknik yang digunakan untuk mengamati objek yang di teliti, data yang diperoleh melalui teknik ini berupa hasil pengamatan tentang aktivitas nelayan dan rumah tangga nelayan dalam kehidupan sehari-harinya.
- Wawancara (interview), yakni teknik yang di gunakan untuk medapatkan informasi atau data yang diinginkan dengan melakukan tanya jawab dengan informan. Proses yang wawancara yang dilakukan tentunya tak lepas dari pedoman wawancara yang telah di tentukan sebelumnya (wawancara terstruktur). Dan apabila ada hal yang sulit di ungkapkan oleh informan, maka di mungkinkan untuk melakukan wawancara bebas yang menggiring kita untuk mengorek informasi atau data secara mendalam (indepth interview). Teknik ini juga nantinya akan mendukung dan menguatkan data yang di peroleh melalui teknik pengamatan.
BAB II
PEMBAHASAN
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Adapun mengenai demografi dan masyarakat di pulau Kodingareng pada umumnya sama dengan pulau di sekitarnya seperti pulau Barrang, Lae-lae dan lain-lain. salah satu pulau yang terletak diwilayah perairan barat kota Makassar, Pulau yang luasnya kurang lebih 1 Km2, berada di kawasan laut yang oleh kalangan kelautan mengenalnya dengan sebutan kawasan Spermonde (sebutan untuk kawasan laut pada masa penjajahan Belanda). Jarak dari Kota Makassar ke Pulau Kodingareng adalah kira-kira 2 mil atau memakan waktu perjalanan kira-kira 1 jam dengan menggunakan kapal reguler/kapal motor. setiap harinya ada tiga kapal reguler yang mengangkut penumpang dari pulau Kodingareng ke pelabuhan Kayubangkoa. Dari data-data kelurahan menyebutkan bahwa lebih dari 400 KK menghuni pulau tersebut, dan dari catatan itu pula menyebutkan kalau penduduk di Kodingareng merupakan yang terpadat di bandingkan dengan pulau-pulau sekitarnya. Pada kelompok-kelompok masyarakat tertentu di pulau tersebut ditemukan masih merupakan kerabat. Walapun dalam sejarahnya pulau Kodingareng pernah dihuni oleh beberapa kelompok etnis (Makassar, Bajoe, Mandar dan Cina). Adapun sektor ekonomi atau mata pencaharian yang paling utama adalah profesi sebagai nelayan.
Dari sekian banyak nelayan yang terdapat di pulau tersebut dari hasil penelitian LPMA HUMAN juga menemukan sekitar 7 perahu yang beroperasi dengan menggunakan Gae yang sampai saat ini digunakan masyarakat nelayan Kodingareng. Nelayan yang menggunakan alat Gae dalam menetukan lokasi penangkapan ikan kadang tidak menentu sehingga sebagian Pagae justru mengoperasikannya diluar daerah seperti di Nusa tenggara bahkan sampai di kawasan laut Luwuk banggai, teluk Bone. Hal inilah yang menyulitkan data kami mengidentifikasi lebih detail tentang jumlah Pagae yang beropersi di pulau tersebut.
Sistem Pengetahuan
1. Pengetahuan pelayaran.
Berkaitan dengan aktivitas pelayaran, masyarakat nelayan mutlak membutuhkan pengetahuan-pengetahuan tentang musim-musim, kondisi cuaca, arus laut atau kondisi dasar dan tanda-tanda alam lainnya untuk menentukan waktu-waktu memulai pelayaran, kelancaran, keberhasilan, dan keselamatannya. Nelayan dan pelayar memilki pengetahuan tentang dua musim utama, yaitu musim barat dan musim timur yang menentukan waktu-waktu intensif atau sepinya aktivitas pemanfaatan sumber daya alam laut oleh nelayan Pagae. Pembagian dan karakterstik masing-masing pola musim tersebut, sebagai berikut :
• Bulan 12 – 6 berlangsungnya musim baratdengan hujan lebat, angin badai besar dengan arus kuat dari arah barat ke timur tidak atau kurang memungkinkan aktivitas nelayan dan pelayaran rakyat.
• Sebaliknya usim timur berlangsung antara bulan 7 – 12 di tandai dengan angn dan arus agak lemah dari timur ke barat memeberikan peluang besar bagi nelayan beroperasi secara intensif.
• Dari musim barat ketimur ada musim beralihan berlangsung selama kurang lebih 3 bulan. (bulan 5 – bulan 7) membawa angin denga goncangan ombak kurang menetu tak henti-hentinya. Di beberapa perairan terbukadi Indonesia bagian Timur, termasuk Sulawes Selatan kecuali sebagian wilayah Teluk Bone, sulit di masuki selama musim peralihan tersebut.
Mengenai perubahan musim, perubahan cuaca dan suhu, kondisi air laut, konisi dasar, yang mempengaruhi (positif negatif) aktifitas pelayaran dan eksploitasi sumber daya laut/perikanan, Nelayan Pagae misalnya berpedoman pada perangkat pengetahuan mereka tentang tanda-tanda di laut dan angkasa berupa kilat, awan hitam, bunyi kemudi perahu, cahaya laut, yang duhubungkan dengan peristiwa atau hal datangnya angin kencang, adanya batu karang, dan lain-lain sebagainya.
Khusus nelayan utamanya nelayan Pagae di Kodingareng, memiliki pengetahuan berdasarkan pengalaman dan warisan pengetahuan mengenai kondisi dasar (dalam, dangkal, berpasir, berlumpur, berbatu-batu, rata, landai, curam) dan kondisi air laut, terutama ombak dan arus. Pengetahuan seperti ini diperlukan bagi pilihan penggunaan jenis ikan.
2. Pengetahuan tentang klasifikasi biota laut bernilai ekonomis.
Klasifikasi pengetahuan tentang biota laut bernilai ekonomi yang dimiliki nelayan Pagae; Tembang, Sibula’, Katombo Banyara, ’Garonggong, Como-como, Cakalang, Layang, Tenggiri dan lain sebagainya.
3. Pengetahuan tentang lokasi penangkapan dan letak rumah/kawanan ikan di laut.
Dari akumulasi pengalaman dan warisan generasi tua, nelayan di mana-mana mempunyai pengetahuan tentang lokasi-lokasi ikan, bahkan letak rumah-rumah ikan targetnya:
Kognitif Map nelayan Pagae P. Kodingareng
4. Pengetahuan mengenai lingkungan sosial.
Kelompok-kelompok nelayan tentu di kelilingi oleh kelompok-kelompok sosial dengan mana mereka berinteraksi, bekerjasama, atau bersaing memperebutkan peluang-peluang penguasaan sumber daya dan pasar. Pengetahuan tentang kondisi lingkungan sosial sekeliling tersebut digunakannya untuk menyusun siasat bagi pengambilan keputusan/pilihan tindakan (choice actions).
Struktur Organisasi
Di Kodingareng, dimana terdapat komuniti-komuniti nelayan dikenal kelompok- kelompok punggawa-sawi, yang menurut keterangan dari informan dari setiap desa nelayan yang ada di Sulawesi Selatan dan di Pulau Kodingareng pada khususnya, hal tersebut telah ada dan bertahan sejak ratusan tahun. Struktur inti/elementer kelompok organisasi ini ialah ponggawa laut/juragan dan sawi-sawi. Punggawa berstatus pemimpin pelayaran dan aktivitas produksi dan sebagai pemilik alat-alat produksi. Mereka memiliki pengetahuan kelautan, penegtahuandan keterampilan manejarial, sementara sawi hanya memiliki pengetahuan kelautan dan keterampilan kerja/produksi semata. Bentuk struktural lain terjadi ketika suatu usaha perikanan mengalami perkembangan jumlah unit perahu dan alat-alat produksi yang dikuasai oleh punggawa laut/juragan tadi sebagai akibat dari pengaruh Kapitalisme. Untuk mengembangkan mempertahankan eksistensi usaha, maka ponggawa laut/juragan tidak ikut lagi memimpin pelayaran melainkan tetap tinggal didarat/pulau mengusahakan perolehan pinjaman modal dari pihak lain, mengurus biaya-biaya anggotanya yang beroperasi di laut dan lain-lain. Disinilah pada awalnya muncul satu status baru pada strata tertinggi dalam kelompok kerja nelayan yang disebut punggawa darat. Untuk memimpin pelayaran dan aktivitas produksi di laut, ponggawa darat merekrut juraga-juragan baru menggantikan posisinya memimpin unit-unit usaha yang sedang berkembang/meningkat jumlahnya. Para juragan/punggawa laut dalam proses dinamika ini, sebagian lainnya masih bersatatus pemilik, sebagian hanyalah berstatus pemimpin operasi kelompok nelayan. Para juragan yang rekrut dari sawi-sawi berbakat/potensil dkenal juga dengan istilah ponggawa caddi, sedangkan ponggawa besar disebut punggawa lompo.
Antara Punggawa dan Sawi biasanya masih sekerabat, karean demikianlah dasar untuk merekrut, seorang punggawa darat sebisa mungkin mengambil punggawa laut dari kerabatnya sendiri. Setali tiga uang dengan punggawa laut juga melakukan hal yang sama ketika merekrut sawi. Ada dua alasan untuk mempertahankan sistem perekrutan seperti itu. Pertama, hubungan kekerabatan dianggap sebagai landasan kuat untuk membina hubungan kerja. Kedua, memperkerjakan sanak saudara dianggap sebagai upaya agar uang tidak lari kelur keluarga, maka ada kecenderungan membawa anak-anaknya sendiri. Sekiranya tidak ada kerabat yang direkrut, mereka akan menawarkan posisi kepada tetangga (orang diluar keluarga). Kendati kental kekerabatannya, hubungan itu tidak mempengaruhi tugas dan wewenang masing-masing. Seorang punggawa laut tidak menganggap sawi sebagai bawahan begitu saja dan tidak memperlakukan mereka seperti buruh. Sawi dianggap sebagai mitra kerja yang sejajar. Sawi bisa keluar dari unit perahu yang di miliki seorang punggawa yang tidak jujur dalam pembagian hasil.
Perjanjian kerja antara punggawa dengan sawi dibuat secara lisan tanpa saksi, dan tidak terikat dengan batas waktu walaupun demikian, mereka merasa benar-benar terikat terhadap perjanjian tersebut. Misalnya seorang sawi yan berniat pindah ke kelompok nelayan yang lain, ia harus minta ijin kepada punggawanya. Jika sawi tidak punya utang terhadap punggawa, biasanya ia akan segera di ijinkan untuk pindah dan keluar dari kelompok nelayan tempat ia bekerja selama ini, sebaliknya punggawa biasanya menerima sawi yang ingin bergabung kembali ke kelompok nelayan semula.
Batasan kewenangan atau kekuasaan punggawa darat sebagai pemilik modal juga terbatas. Misalnya, punggawa darat tidak mempunyai hak untuk menentukan hari melaut atau menetukan lokasi penangkapan. Sebaliknya pemilik modal atau alat tangkap bisa memberhentikan punggawa laut, seandainya terbukti malas atau culas alam bekerja. (Muhammad Ridwan Alimuddin, 2005)
Pola hubungan (struktur sosial) menandai hubungan-hubungan dalam kelompok ponggawa-sawi bak dalam bentuknya yang elementer (ponggawa/juragan-sawi) maupun yang lebh kompleks (ponggawa darat-ponggawa laut-sawi) ialah hubungan patron-client: dari atas bersifat servis ekonomi, perlindungan, pendidikan informal, sedangkan dari bawah hubungan mengandung hubungan moral dan sikap-sikap ketaatan dan kepatuhan, loyaltas, kejujuran dan tanggung jawab, pengakuan, dan lain-lain.
Dalam karakteristik personal pekerja yang berlaku pada konsep Pagae, dikenal
struktur Punggawa dan sawi dengan pembagian peran sebagai berikut:
• Punggawa, bertugas menjalankan kapal atau navigator, memberikan instruksi
kepada sawi, dan menetukan lokasi penangkapan
• Basnes, juru mesin/ mekanik yang menjalankan mesin motor penggerak kapal.
• Pappela assi, bertugas menurunkan dan menaikkan jaring sambil dirapikan, untuk
tugas seperti ini dibutuhkan 3 – 5 orang.
• Pappela batu, bertugas menurunkan dan menaikkan tumbera keatas kapal sambil
merapikannya untuk tugas seperti ini dibutuhkan 2 orang
• Pappela pato’, bertugas menaikkan dan menurukkan pato-pato.
• Pattiro juku, bertugas mendeteksi ikan-ikan dilaut
• Pa sampe, bertugas mengangkat ikan hasil tangkapan dari jaring
• Pa jama gae, bertugas memperbaiki gae yang rusak atau putus.
Teknologi Produksi
Gae menurut keterangan merupakan modifikasi dari Gae tawang (sejenis pukat kecil). Oleh karena untuk menggerakkan bodi berkapasitas puluhan ton dengan kecepatan tinggi ke lokasi-lokasi perikanan dalam yang jauh dari pantai serta mengangkat jaring dari air mutlak di perlukan beberapa buah mesin berkekuatan tinggi. Ada gejala bahwa gae akan menjadi cikal bakal perkembangan mekanisme armada perikanan laut di Indonesia bagian Timur dimasa yang akan datang. Menurut keterangan dari beberapa nelayan alat ini baru muncul dan mulai digunakan sekitar akhir tahun 1970-an atau awal tahun 1980-an tetapi dengan ukuran yang lebih kecil dari pada yang sekarang. Gae menurut keterangan merupakan modifikasi dari Gae tawang (sejenis pukat kecil) kalau bukan hasil modifikasi dari panjak/jala lompo (payang). Ide pengembangan pukat tradisional menjadi pukat raksasa sudah pasti merupakan akibat muncul dari treadopsinya mesin dari berbagai jenis merek dan kekuatan. Dari keterangan masyarakat nelayan di Pulau Kodingareng juga membenarkan bahwa di pulau tersebut memang pada awal tahun 1980-an telah mulai dikenal teknologi alat tangkap sejenis pukat cincin yang mereka sebut dengan Gae.
Seperti halnya di berbagai desa-desa nelayan di kawasan timur Indonesia lainnya, motorisasi perahu-perahu penangkapan ikan di pulau Kodingareng dan pulau-pulau sekitarnya baru mulai di tahun 1970 an. Mula-mula hanya beberapa orang nelayan berstatue punggawa (pemilik alat-alat produksi)dan pemimpin aktivitas dilaut ) mampu mengkredit motor dari pengusaha-pengusaha besar di kota Makassar. Introduksi inovasi motor ke desa-desa nelayan melalui Dinas Perikanan, namun pengusaha/pedagang besarlah, yang sebagian besar berkedudukan di kota memegang peranan penting dan mempunyai akses meneruskan dan memperkenalkan secara luas inovasi tersebut kepada masyarakat nelayan melalui para ponggawa darat dengan aturan/mekanisme kredit. Menurut informasi pada mulanya semua unit motor yang masuk ke pulau-pulau atau desa nelayan hanya berukuran 4,5 – 10 pk, motor kecil dipasang di luar perahu (outboard motor) dan samapi pada tahun-tahun 1990 an sebagian besar perahu nelayan sudah menggunakan motor dalam berkekuata minimal 20 pk, perahu-perahu nelayan pengguna gae bahkan rata-rata menggunakan mesin double berekekuatan 100-130 pk.
Karena motor sendiri adalah salah satu komponen modal vital yang membutuhkan biaya-bioaya opersional yang terus menerus , maka ini harus difungsikan dengan penggunaan alat-alat tangkap produktif. Di Sulawesi selatan diantara sekian banyak alat tangkap tradisional masih digunakan nelayan, terdapat beberapa diantaranya lebih berasosiasi dengan motor seperti misalnya dalam makalah ini adalah pukat Gae. Dapat dikatakan bahwa adopsi inovasi motor juga dapat memberikan sumbangan kepada pengembangan dan kontinyuiti teknologi tangkap tradisional tersebut, jadi bukanlah memusnahkannya.
Gae atau rengge (Purce siene) adalah sejenis pukat paling besar dan produktif dalam perikanan laut di Sulawesi selatan sampai sekarang ini. Berdasarkan keterangan nelayan di pulau Kodingareng bahwa gae ini baru muncul dan digunakan pada awal-awal tahun 1980 an tetapi degan ukuran yang lebih kecil jika dibandingkan dengan gae yang digunakan pada saat sekarang ini.
Komponen alat tangkap satu buah Gae’
• Mata jaring yang terdiri dari dua jenis yakni, Gae Sipak (digunakan untuk menjaring ikan berukuran kecil) dan gae Tawang (digunakan untuk menjaring ikan berukuran besar dan kuat seperti ikan Tongkol dan tenggiri)
• Tumbera, berupa cincin yang terbuat dari timah dengan berat kurang lebih 1 kg.
digunakan sebagai pemberat Gae.
• Pato’, sejenis bola plastik yang digunakan untuk melampungkan sisi atas gae
dipermukaan laut (dikaitkan pada sisi panjang Gae)
• Tali kalong, tali pengait tumbera sekaligus sebagai tali yang ditarik keatas
Menggunakan Gardang
• Arrisi pato, tali yang digunakan untuk mengikat Gae dengan Pato-pato
• Arrisi batu, tali yang digunakan untuk mengikat Gae dengan Tombera
• Bo’dong, pato induk yang berhubungan dengan ujung tali arrisi pato, yang
digunakan sebagai sebagai patokan pertama pada saat menurunkan gae.
Teknik pengoperasian Gae:
1. Langkah pertama yang dilakukan ketika kapal tiba di daerah penangkapan adalah
mengukur kedalaman laut untuk disesuaikan dengan lebar Gae’
2. Lampu petromaks yang dipasang di dua sekoci dinyalakan, sementara mesin
kapal dimatikan. (aktivitas ini khusus dilakukan pada malam hari).
3. Berselang beberapa waktu, salah satu sawi yang berada diatas sekoci memberikan
tanda dengan menutup lampu menggunakan baskom berwarna merah.
4. Punggawa yang menerima tanda itu segera memerintahkam sawi untuk memeriksa keadaan arus, menyalakan mesin kapal, mempersiapkan Gae untuk diturunkan.
5. Bo’dong yang paling pertama diturunkan sebagai pangkal tali.
6. Pa’pela pato, pa’pela batu dan pa’pela assi secara bersamaan menebarkan gae ke laut, dalam keadaan itu kapal sementara bergerak cepat melingkari sekoci yang berada di tengah-tengah.
7. Bo’dong tetap disorot dan menjadi acuan agar gae melingkar dengan sempurna.
8. Setelah kapal melingkar dan mencapai pangkal (Bo’dong), Kedua tali ujung gae dikaitkan ke kapal sementara Pa’pela batu segera menyalakan mesin gardang dan mengaitkan tali batu (tumbera).
9. Secara perlahan sawi yang bertugas menarik gae ke atas kapal sambil menyisir
ikan yang tersangkut dijaring.
10. Sementara gae ditarik, sawi yang lain merapikan gae pada posisi semula dan sawi
lainnya bertugas mengumpulkan ikan yang telah didapatkan.
Jaringan Pemasaran Hasil Tangkapan
Seperti diketahui bahwa masyarakat nelayan adalah masyarakat yang sepenuhnya bergantung kepada pasar, baik untuk keperluan penjualan hasil produksinya maupun untuk memperoleh berbagai kebutuhan hidupnya. Lagi pula pemasaran hasil-hasil laut sulit sekali dan tidak bisa ditunda-tunda. Berikut struktur jaringan pemasaran ikan yang didapatkan nelayan pagae untuk jenis ikan segar.
Nelayan Pagae-Pdg. Pengumpul/Pabalolang-TPI
• Hasil tangkapan ikan yang diperoleh nelayan untuk pemasarannya memiliki mekanisme seperti jaringan, dalam hal ini setiap nelayan yang telah mendapatkan hasil tangkapan biasanya dijual kepada pedagang pengumpul. Di Kodingareng da pulau-pulau sekitarnya pada umumnya menyebutnya dengan istilahPabalo lang.
• Pabalolang merupakan profesi tersendiri dalam mekanisme pemasaran ikan. Aktifitas sehari-harinya adalah berkeliling disekitar nelayan yang mencari ikan, membeli an mengumpulkan hasil tangkapan langsung dari nelayan
• Tranksaksi antara nelayan dan pabalolang berlangsung di laut.
• Hasil tangkapan yang telah di beli Pabalolang selanjutnya dibawa ke Tempat
pelelangan ikan seperti di Paotere maupun di TPI Rajawali
• Hasil tangkapan ikan yang diperoleh nelayan untuk pemasarannya memiliki mekanisme seperti jaringan, dalam hal ini setiap nelayan yang telah mendapatkan hasil tangkapan biasanya dijual kepada pedagang pengumpul. Di Kodingareng da pulau-pulau sekitarnya pada umumnya menyebutnya dengan istilahPabalo lang.
• Pabalolang merupakan profesi tersendiri dalam mekanisme pemasaran ikan. Aktifitas sehari-harinya adalah berkeliling disekitar nelayan yang mencari ikan, membeli an mengumpulkan hasil tangkapan langsung dari nelayan
• Tranksaksi antara nelayan dan pabalolang berlangsung di laut.
• Hasil tangkapan yang telah di beli Pabalolang selanjutnya dibawa ke Tempat
pelelangan ikan seperti di Paotere maupun di TPI Rajawali
BAB III
KESIMPULAN
Penduduk nelayan di Indonesia pada umumnya menghuni daerah pesisir pulau-pulau besar dan memenuhi pulau-pulau kecil yang sangat banyak jumlahnya. Mereka ini di kategorikan sebagai nelayan karena sebagian besar ataus sepenuhnya menggantungkan kehidupan ekonominya secara langsung atau tidak langsung pada pemanfaatan sumberdaya perikanan laut, dengan mengantungkan beberapa tipe perahu dan jenis-jenis alat/teknik eksploitasi sumber daya laut.
Pengetahuan yang menjadi landasan utama bagi nelayang dalam mengekplitasi lingkungan laut. Yang diuraikan sebagai berikut :
1.Pengetahuan tentang pelayaran
2.Pengetahuan tentang biota laut yang bernilai ekonomis
3.Pengetahuan tentang lokasi tepat/rumah ikan
4.Pengetahuan tentang lingkungan sosial.
Pola hubungan (struktur sosial) menandai hubungan-hubungan dalam kelompok ponggawa-sawi bak dalam bentuknya yang elementer (ponggawa/juragan-sawi) maupun yang lebh kompleks (ponggawa darat-ponggawa laut-sawi) ialah hubungan patron-client: dari atas bersifat servis ekonomi, perlindungan, pendidikan informal, sedangkan dari bawah hubungan mengandung hubungan moral dan sikap-sikap ketaatan dan kepatuhan, loyaltas, kejujuran dan tanggung jawab, pengakuan, dan lain- lain.
Di Sulawesi selatan diantara sekian banyak alat tangkap tradisional masih digunakan nelayan, terdapat beberapa diantaranya lebih berasosiasi dengan motor seperti misalnya dalam makalah ini adalah pukat Gae. Dapat dikatakan bahwa adopsi inovasi motor juga dapat memberikan sumbangan kepada pengembangan dan kontinyuiti teknologi tangkap tradisional tersebut, jadi bukanlah memusnahkannya.
Berikut struktur jaringan pemasaran ikan yang didapatkan nelayan pagae untuk jenis ikan segar